Ocean Heaven


Wang Xingchang (diperankan oleh Jet Li) yang biasanya dipanggil Wang, adalah seorang petugas yang dipercaya untuk mengurusi sebuah tempat hiburan seaworld, Wang selalu mengajak anaknya Dafu (Zhang Wen) ikut ketempat dia bekerja, setiap kali Wang menyibukkan diri dalam pekerjaannya, Dafu selau berenang di sana sembari menunggu ayahnya, dia seorang perenang yang handal dan suka sekali bermain didalam air, lain dengan ayahnya yang sama sekali bisa berenang. Dafu adalah seorang anak penyandang penyandang autis sejak berusia 3 tahun, ditinggal pergi oleh ibunya yang konon katanya tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya tidak sempurna, Wang sendiri percaya kalau istrinya bukanlah meninggal karena kecelakaan didalam air, padahal dia juga termasuk perenang yang handal, istrinya memang sengaja terlebih dahulu menemui ajalnya ketika Dafu berumur 8 tahun, begitulah yang dipercayai Wang selama ini.

Ketika Wang mulai merasakan penyakitnya yang semakin parah, dia menderita kanker hati akut. Belakangan Wang mulai mencari-cari tempat yang mau menampung Dafu setelah kematiannya nanti mengingat hanya dia lah keluarga Dafu satu-satunya Dafu. Satu persatu, Wang awalnya mendatangi sebuah sekolah negeri, dan dilain waktu dia juga mencoba ke dinas sosial, yayasan autis, rumah jompo sampai ke rumah sakit jiwa. Namun tidak ada yang mau menerima Dafu, yayasan autis tidak ada yang mau menerima Dafu karena usia Dafu sudah melebihi 18 tahun, sedangkan Dafu sekarang sudah berumur 21 tahun dan kebetulan baru saja ulang tahun.

Daripada putus asa ditengah jalan, Wang mulai mengajari Dafu untuk hidup secara mandiri, mulai dari memasak sendiri, membuka baju, menghitung uang, mengajarinya cara untuk pergi dari rumah sampai tempat kerja. Suatu hari, datanglah ibu Liu, Liu adalah kepala sekolah yang dulu pernah mengajar Dafu sewaktu dia berumur 8 tahun, Liu lalu membawa Dafu ke sebuah yayasan, secercah harapan mulai dirasakan Wang walaupun tidak bertahan lama, Dafu sering agresif setiap kali menjelang sore hari di yayasan ini, karena ayahnya tidak berada dekat sisinya, berteriak-teriak sampai memukul-mukul kepalanya sendiri. Pihak yayasan akhirnya menyarankan supaya Wang tinggal bersama Dafu disana.
Wang akhirnya meninggal, dia tidak bisa mengelak dari apa yang memang sudah ditakdirkan. Setelah kematiannya, Dafu menetap di yayasan dan bisa hidup dengan mandiri seperti yang diharapkan ayahnya. Dafu sering bermimpi ayahnya datang menemani dia, teringat sewaktu sang ayah sedang meyakinkan Dafu bahwa dia tidak sendirian, ayahnya akan selalu menemaninya ketika dia sudah pergi, datang dengan wujud kura-kura setiap kali Dafu berenang.

Film ini adalah berdasarkan kisah nyata dari kehidupan. Judul aslinya 海洋天堂 (Hai Yang Tian Tang). Kasih sayang dan semangat seorang ayah sebelum pergi meninggalkan anaknya yang menderita autis. Untuk pertama kalinya aktor laga Jet Li membintangi film kategory drama, dan hasilnya sangat memuaskan. Film ini mendapat banyak tanggapan positif, nilai rating dan review dari imdb juga sangat bagus. Pada film Ocean Heaven ini kita bisa sering menyaksikan cuplikan dari anak dengan sindrom autis, perilaku Dafu yang selalu mengangkat tangan kirinya sambil memainkan jari tangan, istilah ini disebut repitition, seperti selalu menaruh boneka di atas televisi atau mengulang-ngulang perkataan ayahnya, menghindari kontak mata, perilaku agresif, juga perilaku keteraturan seperti selalu menyiram bunga setiap hari. Sampai hari ini sindrom autis belum diketahui penyebab pastinya termasuk cara pengobatannya. Di seluruh dunia, 7 diantara 1000 orang anak adalah autis, dan di Indonesia sendiri pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 112.000 penyandang autis, angkanya terus bertambah sampai sekarang.

Seorang ibu tidak seharusnya menyalahkan dirinya sendiri ketika mempunyai anak dengan sindrom autis, karena autis sendiri bukanlah kesalahan dari sang ibu sewaktu atau sesudah hamil. Salah satu adegan paling menyentuh dalam film ini adalah ketika Wang berbicara yakin bahwa istrinya bukanlah tenggelam karena kecelakaan tetapi sengaja menenggelamkan diri karena tidak bisa menerima anaknya yang autis. Tidak hanya pada film ini, masih banyak orang yang tidak bisa menerima anak autis, padahal mereka juga manusia, mereka juga punya hak yang sama, perlu kasih sayang dan uluran tangan dari semua orang. Mari kita sayangi mereka.